Posted by infowisata01.blogspot.com
12.39, under |

Pantai Hunimua, Desa Liang, Kabupaten Maluku Tengah, biasa disebut Pantai Liang, menempati peringkat pertama terindah di Indonesia berdasarkan hasil penelitian Badan PBB yang mengurusi pembangunan global (UNDP) tahun 1990. "Keindahan Pantai Hunimua mengalahkan Bunaken yang berada pada peringkat ketiga atau pantai-pantai lainnya di Indonesia," kata Wakil Gubernur (Wagub) Said Assagaff di sela acara Pagelaran Seni dan Budaya antara dua negeri bersaudara Liang dan Waai di pantai tersebut. Pantai Hunimua atau Pantai Liang menempati urutan tertinggi karena memiliki panorama bawah laut yang sangat memikat. "Bagi anda yang gemar
diving (menyelam), bisa menikmati keindahan bawah laut (terutama pada lokasi) 50 meter dari tepi pantai," katanya. Dia mengimbau masyarakat setempat mendukug upaya pembangunan objek wisata tersebut agar tidak tertinggal jauh dibandingkan Pantai Bunaken. Dulu, menurut Wagub, niat Jepang mengembangkan wilayah itu terkendala konflik internal antarmasyarakat Liang, menyebabkan Negeri Sakura itu akhirnya berinvestasi di Bunaken. "Masyarakat kita di sini tidak siap. Mereka saling klaim soal tanah sehingga menyebabkan Jepang mengalihkan investasinya ke Bunaken yang masyaratnya lebih siap," kata Wagub. Wagub lalu mengajak masyarakat di dua negeri adat itu, khususnya Liang, bersatu membangun negeri terutama untuk menyambut kegiatan pelayaran bertaraf internasional Sail Banda 2010 yang akan berlangsung pada Juli-Agustus 2010. "Pantai ini juga disertakan sebagai daerah tujuan wisata Sail Banda. Itu sebabnya kita harus bersatu membangun daerah ini. Saya yakin, suatu ketika kawasan ini akan berkembang pesat," katanya. Dijelaskan, Pemerintah Provinsi Maluku sedang menggalakkan pertumbuhan pembangunan di berbagai sektor yang bertujuan meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan rakyat serta membangun perdamaian sejati di daerah bekas konflik ini.
Posted by infowisata01.blogspot.com
12.27, under |

Pantai Natsepa yang terletak di Desa Suli Kecamatan Salahutu Kabupaten Maluku Tengah, merupakan lokasi wisata yang sangat dikenal di Kota Ambon. Pantai yang terletak sekitar 18 KM dari pusat Kota Ambon tersebut sering menjadi pilihan warga Kota yang ingin menikmati hari liburnya. Pantai ini landai, lebar dan sangat terkenal sejak dulu, dengan pasir putihnya yang halus. Untuk mencapai pantai ini dapat dilakukan dengan menggunakan kendaraan baik roda dua maupun roda empat, atau angkutan umum trayek suli, memasukki daerah wisata ini, pengunjung akan disuguhkan dengan pemandangan diluar pantai dengan deretan penjual-penjual rujak maupun makanan lainnya. Rujak Natsepa atau Rujak Suli sudah sangat terkenal bagi masyrakat Kota Ambon, penganan yang dijual dengan harga Rp. 5.000 satu porsi ini, sangat asyik dinikmati sambil menikmati. Objek Wisata ini menyediakan berbagai fasilitas yang dapat dinikmati oleh para pengunjung antara lain beberapa shelter yang dapat digunakan sambil menikmati indahnya pantai dan pemandangan Teluk Baguala. Tarif masuk ke lokasi wisata ini, untuk orang dewasa dipungut biaya sebesar Rp. 1.000,- kendaraan roda dua Rp. 1.000,- dan kendaraan roda empat Rp. 2.000,-. Menikamti hari libur di pantai yang sangat indah ini, para pengunjung juga dapat menikmati berbagai pertunjukkan yang diberikan pengelola, pertunjukkan itu antara lain atraksi bambu gila, ataupun permain lainnya.
Posted by infowisata01.blogspot.com
12.16, under |

Tempat tinggal Bung Hatta ketika beliau di asingkan diBanda Naira oleh Belanda pada tahun 1936. Bung Hatta diasingkan di Banda Naira bersama Bung Sjahrir. Mereka berdua dipindahkan dari tempat pengasingan sebelumnya di Boven Digul dan mereka tiba di Banda Naira dengan sebuah kapal yang bernama Fommal Haut. Di Rumah Pengasingan Bung Hatta, pengunjung dapat melihat barang-barang peninggalan Bung Hatta sewaktu di Banda Naira. Setelan jas, mesin tik, tempat tidur, meja makan, meja kerja dan benda-benda peninggalan lainnya dapat dilihat di sini. Bagian belakang gedung rumah pengasingan Bung Hatta, terdapat sebuah gedung yang dijadikan sebagai sekolah pada waktu itu.
Posted by infowisata01.blogspot.com
12.14, under |

Rumah tempat tinggal Bung Sjahrir ketika beliau di asingkan ke Banda Naira bersama Bung Hatta pada tahun 1936. Beliau diasingkan di Banda Naira setelah diasingkan di Boven Digul. Beliau bersama Bung Hatta membuat sebuah sekolah pada waktu itu di rumah pengasingan Bung Hatta. Kini, nama Bung Sjahrir dan Bung Hatta diabadikan sebagai nama sebuah mesjid dan sebuah sekolah tinggi di Banda Naira.
Posted by infowisata01.blogspot.com
12.06, under |

Pulau Banda Naira merupakan pulau utama dalam gugusan kepulauan Banda. meskipun bukan pulau terbesar, pulau ini merupakan ibukota kecamatan banda. kota itu sendiri bernama Naira atau sebagian orag menyebutnya Neira yang terletak sebelah selatan pulau ini. pada bagian utara terdapat perkebunan pala di daerah yang bernama Lautaka dan Mangkubatu.
Posted by infowisata01.blogspot.com
12.02, under |

Istana Mini adalah sebuah gedung administrasi pemerintah Belanda ketika Belanda menjajah kepulauan Banda. Gedung ini digunakan oleh Jan Pieter San Coen saat ditugaskan oleh kerajaan Belanda untuk mengurusi monopoli perdagangan di Kepualauan banda. Bila dilihat secara seksama, gedung ini menyerupai istana presiden RI (Istana Merdeka) yang ada di Jakarta. Dan memang gedung ini merupakan bentuk mini dari Istana Merdeka, namun Istana Mini lebih dulu dibangun dari Istana Merdeka.
Posted by infowisata01.blogspot.com
11.50, under |

Patung Ini dibuat dalam rangka memperingati 25 tahun pemerintahan Wiliem III di Kepulauan Banda. Wiliem III menjadi kepala pemerintahan di Banda Naira pada tahun 1850-1875. Letak patung ini masih dalam area Istana Mini. Ada yang menyebutkan bahwa patung ini terbuat dari besi. Ada pula yang mengatakan bahwa patung ini terbuat dari tembaga, dan sebagaian lagi mengatakan bahwa patung ini terbuat dari perunggu. Namun yang jelas bahwa patung ini terbuat dari logam.
Posted by infowisata01.blogspot.com
11.45, under |

Benteng Nassau, dibangun oleh pemerintahan belanda di Banda Naira pada tahun 1608. Pemerintahan Belanda pada waktu mendirikan benteng ini dengan memanfaatkan bekas bangunan benteng yang pernah dibuat oleh Portugis pada tahun 1512. Di benteng inilah para pejuang Banda Naira dibantai oleh Jan Pieter San Coen. Mereka dibantai dengan cara dipenggal kepalanya dan dipotong-potong tubuh mereka menjadi empat bagian. Dengan tuduhan menentang Pemerintahan Belanda, 40 pejuang banda ini dibantai secara sadis dan tidak manusiawi.